Januari, Februari …. Kemudian Pandemi : Waktu seakan terhenti

Covid-19… pada awalnya tidak lebih dari sebuah informasi yang bagi saya,  sama artinya sebagaimana saya mendengar tentang Flu Burung dan SARS.  Membahayakan……. jelas, mengerikan dan memberikan simpati, namun…….. seakan terdengar jauh dari diri.  Teringat pada akhir tahun 2019, ketika saya sedang berlibur akhir tahun, Covid-19 masih jauh dari rasa takut dan cemas.  Belum ada rona kekhawatiran dari raut wajah orang-orang maupun keluarga yang tengah berlibur.

Januari…. Berita Covid-19 semakin deras. Mulai setiap hari terdengar berita dahsyatnya penyakit tersebut. Gejala-gejala yang dimunculkan bila terjangkit Covid-19, sekian persen orang meninggal karena penyakit tersebut, sejumlah negara melakukan lockdown , hirup pikuk lockdown.  Semuanya menyerbu telinga, namun masih tetap belum menyentuh hati. Masih teringat dalam waktu-waktu tersebut, saya masih santai menjalani pekerjaan dan perjalanan dinas tanpa peduli berada di daerah yang dinyatakan rawan Covid-19.

Memasuki Februari…. Covid-19 serasa dekat dengan diri. Rasa waspada mulai terbentuk. Mulai bertanya apakah itu Covid-19 sebenarnya? Benarkah dapat menyebabkan kematian? Mengapa?  Pada usia mana? Apa yang harus diwaspadai agar bila terkena Covid-19 tidak menjadi fatal?  Hal-hal tersebut mulai merasuki pemikiran, tapi masih belum cemas dan mempengaruhi keseharian. Masih teringat, pada bulan tersebut saya masih menghadiri pentas anak, meskipun sebagian penonton mulai ada yang mengenakan masker. Masih makan di restoran, nonton di bioskop, berkumpul dan bergurau dengan teman.

Pertengahan Februari…… semuanya seakan terhenti.  Saat angka kematian perlahan meningkat, kesulitan tenaga kesehatan (nakes) dalam menangani penderita Covid-19. Testimoni yang banyak bertebaran di banyak sosial media. Kebijakan-kebijakan menggunakan masker, menjaga jarak, sampai dengan SFH dan WFH.

Saat itu saya mulai tersentak dan menyadari bahwa….. akan terjadi perubahan besar…………… dunia yang kita kenal, mungkin tidak akan sama lagi….. 

 

Januari, Februari….. Kemudian Pandemi: Menjalani Cemas tiada henti

Pertengahan Februari…. Mulai terjadilah perubahan tersebut.  Bekerja dari Rumah (WFH) dan Belajar dari rumah (SFH) menjadi warna pertama dalam babak kehidupan ini. Menjaga jarak dan menggunakan masker serta cuci tangan menjadi hal yang harus mulai dibiasakan.

Tapi yang paling terasa adalah perasaan cemas yang tumbuh subur. Keluarga, Sahabat, dan Lingkungan mulai cemas tertular Covid-19. Tua maupun muda semuanya cemas. Mungkin hanya anak-anak saja yang tidak cemas, bahkan sebagian ada yang bergembira karena menganggapnya sebagai liburan dari aktivitas sekolah.

Angka kematian…. Berita kematian…. Khawatir akan kematian…. menjadi bahan pembicaraan yang mewarnai setiap telepon yang diterima atau ketika bertemu. Bila tiba-tiba badan agak panas dan sedikit batuk-batuk menjadi satu hal yang menakutkan. Disampaikan takut, didiamkan salah. Semuanya serba salah.

Tidak selesai sampai situ, PSBB diberlakukan. Setelah cemas “tertular dan terjangkiti” berlanjut dengan pemikiran “tidak bisa kemana-mana”  Akhirnya pemikiran yang berlebihan pun bermunculan… Bagaimana jika tidak ada makanan? Bagaimana jika rusuh? Kemana akan pergi?

Semua kompleks pasang pagar. Pasang persiapan, pasang rencana…… meskipun tidak yakin akan rencana tersebut. Tidak ada yang ahli dalam situasi ini…..  Tiba-tiba kehidupan seakan menjadi suram dan buram. Akankah berakhir begini?

 

Januari, Februari….. Kemudian Pandemi: Berjalan tidak Berlari, Ternyata Kehidupan tidak terhenti

Kita memang ajaib. Manusia memang ajaib. Manusia adalah mahluk-Nya yang dikaruniai kekuatan berpikir dan berkehendak. Hari demi hari yang dilalui dengan kecemasan pada akhirnya mulai diimbangi dengan perasaan “tidak boleh hanya begini begini saja” ………

Mulai berpikir:
1. Kita tidak sendirian. Semua sedang kesulitan. Berhenti berpikir untuk diri sendiri.
2. Apakah persiapan selama ini sudah cukup? Ok cukupkan dulu apa adanya.
3. Siapakah diantara keluarga dekat yang harus dilindungi? Bagaimana kita mengaturnya dalam kondisi saat ini?
4. Siapa lagi yang harus dibantu? Bagaimana membantunya?

Tanpa disadari, terbangun sikap untuk merencanakan dengan lebih baik, memperhatikan dan berbicara dengan lebih santun, membantu tanpa diminta, kreatif dalam bertindak dan membantu.

Ketemuan on-line, Dagang on-line, Belajar on-line, Bekerja on-line, Konseling on-line menjadi dunia baru menggantikan bagian yang sempat hilang saat awal Pandemi.

Ternyata dunia tidak berhenti, meskipun kita tidak berlari. Bahkan dalam masa itu, Saya melihat kembali manusia yang lebih peduli dan memaklumi.  Sesuatu yang sepertinya seakan hilang pada tahun-tahun sebelumnya.

Covid-19 tidak menutup silaturahmi dengan orang tua, keluarga, kerabat.  Bahkan selama pandemi, kita menjadi lebih sering berkomunikasi meskipun sebatas  on-line. Sebelumnya, bisa jadi kita ada secara fisik bagi yang lain, tapi tidak berkomunikasi. Bisa jadi dekat secara fisik, tapi hatinya sedang bicara dengan yang diseberang telepon genggam.

Sekarang, kita lebih mengenal siapa orang-orang terdekat kita. Ada kedekatan dan kesatuan yang sebelumnya bisa jadi kalah oleh kepentingan masing-masing.

Covid-19 ternyata tidak menghalangi niat bekerja. Ada kebijakan bagi yang harus bekerja diluar jaringan (luring). Banyak keuntungan juga yang diperoleh bagi yang bekerja dalam jaringan (daring). Bahkan ada yang naik bisnisnya. Kuncinya sederhana: Kreatif dan tetap disiplin jaga protokol Kesehatan.

Covid-19 mendorong manusia kreatif dalam membantu satu sama lain. Semua terlibat saling membantu untuk meringankan. Apapun yang bisa dibantu, akan dibantu sesuai kemampuan. Pada saat ini, terasa bahwa bisa membantu adalah salah satu karunia manusia yang menjadikannya “berada” (eksis), bukan pangkat, jabatan dan golongan.

Membantu bisa dimulai dari langsung meringankan yang membutuhkan, menyebarkan ilmu, sampai hal yang mungkin sudah lama tidak dilakukan, yaitu ter-Senyum, mengucapkan Terima Kasih, dan memberikan Puji-an.

Apapun yang bisa dilakukan untuk menyebarkan energi positif, karena hanya itu yang menyebabkan manusia memiliki harapan dan percaya untuk hidup dan maju.

 

Januari, Februari…. Kemudian Pandemi: Kembali pada yang Hakiki

Tidak terasa, sudah lebih dari 1 tahun lebih Pandemi Covid-19 melanda Dunia, dan (mungkin) 10 bulan di Indonesia.  Sejumlah harapan muncul diantaranya berita vaksin yang semakin rampung, meskipun tidak memupuskan sepenuhnya kekhawatiran akankah benar-benar berakhir? Banyak yang berkata “semoga berakhir agar bisa kembali ke kehidupan sebelumnya”, tapi… apakah benar demikian?

Sebelumnya, ijinkan saya bertanya dan silahkan dijawab bila mau:

a) Apakah selama Covid-19 kita jadi lebih tahu sahabat, kerabat dan keluarga kita? Apakah Kita bisa paham dan merasakan kesulitan dan kekhawatiran mereka? Sejauh manakah kita membantunya? Atau kita lebih banyak menggunjingkan sebagaimana yang mungkin kita lakukan pada tahun-tahun sebelumnya?

b) Apakah selama Covid-19 kita jadi lebih banyak ilmunya? Lebih banyak kebisaannya? Atau dalam waktu-waktu tersebut kita lebih banyak melihat hal-hal yang tidak perlu?  Lebih banyak menggerutu atas kebisaan orang lain?

c) Apakah selama Covid-19 kita menjadi lebih banyak membantu orang? Tersenyum, Mengucapkan Terima Kasih? Menenangkan orang atau keluarga yang cemas? Atau mendiamkan sebagaimana yang mungkin juga dilakukan di tahun-tahun sebelumnya?

d) Mana yang lebih banyak kita sebarkan? Energi positif atau negatif? Patokannya mudah: saat ini apakah kita lebih banyak membuat orang senyum atau suntuk?

e) Apakah selama Covid-19 kita merasakan diri kita lebih sehat? Mungkin hanya sakit satu atau dua kali dalam setahun? Kalaupun sakit bisa lebih cepat pulih tanpa obat? Apakah hal itu sudah kita syukuri? Apakah kita saat ini sudah menjadi pribadi yang lebih berani dan bertanggung jawab dalam menjaga keselamatan sekitar kita?

f) Apakah selama Covid-19 kita bisa merasakan diri kita lebih khusyu dalam beribadah kepada-Nya? Menjalankan aktivitas ibadah lebih tenang bersama keluarga? Mendoakan orang lain lebih tulus? Mengucapkan syukur kepada-Nya? Atau kita lebih banyak menyampaikan kegiatan-kegiatan ibadah kita melalui media sosial? Atau lebih celaka lagi….. bahkan lupa beribadah karena apapun alasannya?

Bagi saya…. Pandemi Covid-19 adalah sebagaimana bencana-bencana yang terjadi dalam sejarah kehidupan manusia. Manusia diingatkan dan diajarkan kembali oleh Penguasa Alam Semesta tentang suatu hal yang hakiki yaitu Kehidupan.

Kita mengejar Kehidupan, tapi lupa apa yang dikejar. Mengejar penghasilan untuk menghidupi tapi lupa cara yang benarnya….. Mencari posisi untuk diakui tapi menjatuhkan bila perlu, melupakan  kehidupan orang lain,….. akhirnya berpikir kita penguasa Kehidupan. Lupa bahwa kita hanya segelintir debu dari Penguasa yang sesungguhnya.

Sebentuk kecil Covid-19 mengingatkan Saya bahwa hakiki utama dalam kehidupan adalah berbuat baik. Dengan menjadi Hidup, maka kita bisa berbuat baik bagi semua. Oleh karena itu, dalam waktu yang singkat ini, jagalah sebaik-baiknya kehidupan diri, keluarga, lingkungan dan dunia.

Satu tahun yang spesial ini menyadarkan saya bahwa masih Panjang jalan untuk menjadi manusia yang baik. Saya berdoa bagi keselamatan semua yang telah berpulang, dan kebesaran hati bagi semua yang masih dipercaya oleh-Nya untuk berada di dunia ini.

Tidak perlu menghabiskan waktu untuk menilai dan mencela apapun yang ada. Hargai dan Bantu apapun yang dilakukan oleh siapapun, agar dapat menuju kebaikan bersama.

Manusiawi, bila pada saat saat ini ada yang menjadi egois, panik, emosi, putus asa. Karena itu mengingatkan kita bahwa sebenarnya tidak pernah ada keberhasilan karena kemampuan sendiri, dan tidak ada kesulitan yang tidak bisa diatasi bersama.

Menjalani Covid-19 saat ini dan seterusnya, saya  tidak mempertanyakan lagi kapan berakhirnya, selain menjalani Skenario-Nya untuk membangun dunia yang lebih baik.

Saya tidak tahu sejauh mana dan sebesar apa, saya dipercaya oleh-Nya dalam menjalankan amanah-Nya…. Tapi ada sejumlah hal yang saya bisa lakukan saat ini, yaitu: Bersyukur, Bertanggung jawab, Berencana, Berusaha, Bersatu, Berdoa & Berserah.

 

Selamat jalan 2020, Selamat datang 2021
Sebuah Refleksi Diri, Semoga Menginspirasi

~Aria Arayana P. Siregar, M. PsiT., MM. HRM, Psikolog~