Psikologi: Kunci yang selalu tertinggal

Perkembangan “Manusia Baru” menuju “Dunia Baru” bukanlah tanpa hal yang harus dijadikan perhatian. Setidaknya terdapat 3 poin penting yang perlu diperhatikan:

  1. Apakah Penderitaan akan keluar dari konteks kehidupan manusia? Berbicara penderitaan tentu bukanlah suatu hal yang menyenangkan. Orang yang menderita artinya dia memiliki pengalaman menyakitkan, yang kemudian penderitaan itu dapat saja dikonversi ke dalam alat tukar (moneter) sebagai perhitungannya. Akan tetapi Penderitaan juga memiliki makna kemajuan bagi kehidupan berikutnya.
    Penderitaan dalam konteks pengorbanan adalah membangun penderitaan bagi diri sendiri yang kemudian menjadi sebuah kemuliaan bagi yang lain (atau berikut). Dengan menderita manusia belajar untuk maju. Ketika kemudian tercipta kehidupan “tanpa” penderitaan, atau setidaknya setiap penderitaan akan ada “jalannya”, maka sampai sejauh mana manusia akan tetap berada?
  2. Akankah Kebijaksanaan Diri (Wisdom) hilang? Perkembangan yang pesat dalam kehidupan dan juga keberadaan manusia nantinya, bukan tidak mungkin akan menciptakan kesamaan pola pikir, pola tindak dan pola adaptasi dalam lingkungan yang terkendali. Wisdom tidak terbentuk dari lamanya usia, akan tetapi kekayaan manusia dalam berinteraksi dengan berbagai dinamika sosial dan alam, yang membangun kesadaran manusia untuk tidak mengutamakan egonya semata, namun mencoba menjalani bersama-sama dalam harmonisasi. Seringkali keterbatasan itu muncul dari fisik manusia, bukan mentalnya. Dengan “dipindahkanya” mental manusia menuju wadah-wadah yang baru, kita akan menghadapi kebijakan digital bukan kebijaksanaan diri.
  3. Bimbingan Moral dalam bertindak. Manusia dikatakan sebagai makhluk istimewa karena ia memiliki moral yang membimbing nuraninya untuk selalu bertindak yang benar. Kebenaran tersebut semestinya universal, karena muncul dari rasa tidak enak (sakit) yang dirasakan oleh hati manusia saat ia melakukan sesuatu yang kemudian ia sadari keliru. Kemajuan zaman yang membuka pintu eksplorasi bebas yang memungkinkan manusia membangun pengalaman sebagai “Pencipta” akan menjadi ujian serius bagi keberadaan manusia. Manusia tetap perlu Kekuatan yang lebih Tinggi, sebagai pengingat akan tindakan-tindakannya di masa mendatang.

Percaya dan Berkorban, Motivasi, Wisdom dan Moral serta Kreativitas merupakan hal yang harus terus dipertahankan dalam kehidupan manusia, terlepas dari seberapa canggihnya algoritma yang akan terbentuk di setiap aspek kehidupan manusia nantinya. Bagi saya, kemampuan tersebut muncul melalui refleksi yang berkembang saat manusia berinteraksi sesama manusia dan Pencipta-Nya. Psikologi adalah ilmu yang menjembatani manusia dalam melakukan refleksi dan berinteraksi. Yang menjadi isu adalah pemanfaatan Psikologi belum optimal dalam membangun kesadaran tersebut. Psikologi saat ini masih terbatas pemanfaatannya dalam menangani masalah-masalah “riil” saat ini.

Dalam situasi perubahan yang akan terjadi, Psikologi perlu membangun visi yang menunjukkan kontribusi di masa mendatang, yaitu: Menciptakan Manusia Baru di Dunia Baru.

Aria ArayanaParasian Siregar, Psikolog, MPsit MMHRM
  Programme Director at Bina Potensia Indonesia
  Studied Human resource management at Griffith University
  Studied magister psikologi terapan at University of Indonesia
  Studied Sarjana Psikologi at Padjadjaran University