Manusia 2.0: Ilusi atau Nyata?

Manusia adalah makhluk unik (kompleks) yang selalu mengalami bipolar antara Pencipta dan yang diciptakan-Nya, atau antara Hewan dan Ideal. Manusia memiliki struktur biologis yang seringkali menjadikan keberadaannya sebagai bagian dari evolusi kehidupan, tapi Manusia juga memiliki kualitas mental dan spiritual yang menjadikannya terpisah dari makhluk lain (Fuller, 2011, Humanity 2.0: what it means to be human Past, Present and Future).

Douglas (2008, dalam Fuller, 2011) menetapkan sejumlah karakter dari manusia yang membedakannya dengan makhluk lain, yaitu:
1. Manusia memiliki budaya.
2. Manusia bisa “membaca” pemikiran orang lain yang menyebabkannya bisa mengantisipasi.
3. Manusia bisa menciptakan dan menggunakan alat.
4. Manusia memiliki moral.
5. Manusia menunjukkan kualitas emosi yang lebih kompleks daripada makhluk lainnya (tidak hanya kehilangan dan senang).
6. Manusia memiliki kepribadian yang menyebabkan meski memiliki kondisi genetik yang sama, tapi seseorang bisa menunjukkan perilaku yang berbeda dari yang lain.

Meskipun demikian, Foucault (dalam Fuller, 2011) memberikan tantangan terhadap kemanusiaan, yaitu dengan pertanyaan: Have we always, sometimes or never been humans? (atau dengan kata lain, apakah kita kadang berperilaku tidak sebagai manusia?)

Sejumlah hal yang menjadi pemikiran adalah:
1. Adanya standar-standar yang diciptakan (oleh manusia sendiri) yang kemudian menjadi pembeda antara manusia dan “bukan manusia”
2. Adanya kualitas fisik dan mental berbeda yang menjadikan standar berbeda tentang manusia.
3. Keberadaan manusia ditentukan dari aktivitas yang ia lakukan yang seringkali merubah kondisi natural yang ada. Dalam perkembangannya, di kehidupan dunia modern, bipolarisasi antara keberadaan fisik dengan mental manusia, seakan-akan menjadi terpisah. Dengan adanya Artificial Intelligence, kualitas mental manusia bisa jadi berpindah dari tubuhnya.
4. Standar manusia merupakan suatu yang berharga dan sulit dicapai. Oleh karenanya praktek-praktek untuk mempertahankan standar tersebut harus ditanamkan dan disebarkan, yang akhirnya seringkali menghilangkan keberadaan individual.

Manusia modern, atau yang kemudian disebut sebagai Manusia 2.0 (Fuller, 2011) adalah sebuah pemahaman evolusi manusia yang didasarkan pada perkembangan pemahaman tentang manusia. Sebelum abad 17, manusia hanya dibedakan atas “kelompoknya” dan “bukan kelompoknya” dengan standar yang berbeda-beda. Pada memasuki abad 17 ke 19, manusia mulai dikelompokkan secara universal berdasarkan pemahaman atas tubuh dan mental. Dikenali tipologi manusia dalam berbagai konteksnya. Memasuki abad 21 (dan mungkin selanjutnya) muncul beberapa pemikiran terhadap filosofi bipolarisasi manusia yang berkembang dari teknologi.

a. Akankah manusia terpisah antara badan dan mental (pikiran)?
b. Mungkinkah tercipta standar kualitas manusia secara universal ?
c. Manusia bukanlah Pencipta. Akan tetapi mungkinkah manusia memiliki pengalaman Mencipta?

Converging Technologies (CT) yaitu integrasi antara nano-bio-info-cogno sciences, mendorong ilmu pengetahuan membangun manusia modern dengan sasaran sebagai berikut (Fuller, 2011):
1. Humanity Transcend: yaitu manusia menjadi pengendali kualitas “keturunan berikutnya”.
2. Humanity Enhanced: teknologi memajukan kualitas manusia dalam menguasai badannya dan lingkungan.
3. Humanity Prolonged: teknologi menjadikan manusia berusia lebih Panjang. Dalam tatanan yang lebih ekstrim….. “tidak meninggal”.
4. Human Translated: teknologi menjadikan manusia bisa memindahkan “kemanusiaannya” pada media lain diluar badan alamiahnya.
5. Humanity Incorporated: semua kualitas mental manusia yang dipindahkan kemudian dikelola menjadi sebuah struktur tersendiri.
6. Humanity Tested: kemajuan zaman akan membuka pintu bagi manusia dalam bereksperimen secara luas tanpa batas.

Beberapa hal diatas mungkin saat ini dinilai masih jauh dari kenyataan bahkan bisa jadi dinilai terlalu radikal untuk diwujudkan. Meskipun demikian, beberapa diantaranya tidak, seperti penggunaan nanoteknologi dan robotisasi dalam dunia kedokteran, kemajuan AI dan pemanfaatannya dalam berbagai media antara lain institusi Pendidikan.

Dengan kata lain ketika roda zaman berputar dan manusia menuju perubahan besar….. apakah kita juga berkontribusi di dalamnya?

Aria ArayanaParasian Siregar, Psikolog, MPsit MMHRM
  Programme Director at Bina Potensia Indonesia
  Studied Human resource management at Griffith University
  Studied magister psikologi terapan at University of Indonesia
  Studied Sarjana Psikologi at Padjadjaran University