MEMBANGUN KESADARAN LITERASI KEUANGAN (FINANCIAL LITERACY)
UNTUK MENCAPAI KESEJAHTERAAN DIRI (INDIVIDUAL WELL BEING)

Selama beberapa waktu terakhir, kehidupan manusia masih diwarnai dengan beberapa kejutan-kejutan besar yang menghantui pemikiran kita terhadap bagaimana kita akan menjalankan kehidupan mendatang. Setelah situasi pandemi Covid-19 yang meski belum sepenuhnya hilang namun mulai dapat dikendalikan, kehidupan manusia diwarnai dengan kecemasan menghadapi situasi resesi ekonomi global. Situasi tersebut tidak lepas dari kondisi Pandemi yang masih berlangsung, ditambah perkembangan pemanasan global (global warming) serta kekisruhan politik dan ekonomi akibat situasi perang yang tengah berlangsung di dunia. Situasi tersebut cukup banyak mempengaruhi kehidupan ekonomi manusia dalam beberapa hal antara lain keterbatasan rantai pasok (supply chain), turunnya indeks saham, tingginya harga barang namun tidak diimbangi dengan peningkatan permintaan yang berujung pada inflasi. Keseluruhan situasi yang berkembang menjadi wajar bila memunculkan perasaan cemas pada diri manusia dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya, terutama berkaitan dengan kelangsungan keuangan yang dimiliki saat ini dan masa mendatang.

Pada sisi lain, juga dicermati tingkat kemampuan masyarakat Indonesia dalam mengelola sumber daya (keuangan) atau disebut literasi keuangan masih rendah. Data Otorita Jasa Keuangan pada tahun 2019 menunjukkan indeks literasi masyarakat Indonesia berada pada tingkatan 38,09%. Artinya,  dari 100 orang hanya terdapat 38-39 individu yang memiliki cukup kemampuan dalam mengelola sumber daya keuangannya. Saat Pandemi Covid-19, banyak masyarakat yang mengalami kepanikan karena tidak banyak orang yang memiliki cadangan keuangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya setidaknya selama 6 bulan meski tidak bekerja. Kondisi tersebut masih ditambah dengan terjadi kasus-kasus yang kemudian disebut sebagai penipuan investasi. Terlepas dari skema penipuan yang dilakukan, termasuk fenomena flexing (pamer kekayaan) untuk menarik minat masyarakat, satu hal yang menarik adalah masih banyak pihak yang segera tergiur akan janji-janji yang disampaikan dan memberikan (hampir) seluruh simpanannya tanpa ragu tanpa menelaah lebih jauh produk yang ditawarkan untuk melakukan pengendalian risiko. Situasi-situasi tersebut pada akhirnya memunculkan sejumlah stress yang berakibat buruk terhadap kelangsungan kesejahteraan mental (well being) individu.

Tulisan ini merupakan sebuah pembuka wacana bagi kita semua untuk membangun kemampuan literasi dengan didasari pemahaman mengapa hal tersebut penting bila dikaitkan dengan kesejahteraan mental (well being) dan aspek-aspek psikologis apa yang perlu dipahami oleh seseorang saat mengelola keuangannya, terutama saat mengambil keputusan yang berkaitan dengan keuangan.

LITERASI KEUANGAN

Penelitian mengenai keterkaitan antara situasi keuangan individu dengan kesejahteraan mental telah dilakukan oleh banyak pihak dari waktu ke waktu, baik dari aspek psikologi, sosiologi, dan ekonomi (Sinclair et.al, 2016, Money Matters: Recommendations for Financial Stress).  Secara umum, dari penelitian-penelitian tersebut ditemukan bahwa situasi keuangan cukup berpengaruh pada kondisi kesejahteraan mental individu dan perlu menjadi perhatian bagi banyak pihak.  Kemampuan mengelola sumber daya keuangan menjadi sebuah keterampilan penting yang perlu dimiliki oleh individu untuk memastikan ia memiliki ketersediaan sumber daya uang dalam menjalankan aktivitas sehari-hari untuk mempertahankan produktivitas maupun well being.

Kemampuan mengelola keuangan atau disebut dengan financial literacy didefinisikan sebagai kemampuan mendayagunakan kapasitas pengetahuan dan keterampilan serta akses yang dimiliki untuk mengelola sumber daya (uang) secara efektif sehingga dapat mencapai kondisi “financial well being” (the President’s Advisory Council on Financial Literacy (2008, 2010), dalam Baker et.all, 2014, Investor Behavior – The Psychology of Financial Planning and Investing). Adapun kondisi Financial Well Being didefinisikan sebagai kemampuan individu dalam memenuhi kebutuhan pengeluarannya dan masih memiliki kelebihan untuk disimpan, serta merasa aman dalam menjalankan kehidupannya saat ini dan mendatang (Baker et.al 2014, Investor Behavior – The Psychology of Financial Planning and Investing).

Membangun kemampuan dalam hal literasi keuangan, merupakan salah satu bagian penting untuk memastikan optimalisasi produktivitas manusia sebagai sebuah aset (human capital aset) di lingkungannya. Meskipun seseorang memiliki posisi yang baik dengan penghasilan lebih dari memadai, namun bila ia tidak bisa memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan hidup saat ini dan yang akan datang secara efektif, maka apa yang ia miliki akan tersia-siakan dan bahkan hilang sejalan dengan waktu. Banyak fenomena tokoh-tokoh yang pada masa jayanya memiliki pundi-pundi kekayaan yang tidak terbayangkan bisa habis, namun berakhir bangkrut. Situasi tersebut bersumber dari pengeluaran yang tidak terkendali, pengambilan keputusan investasi yang keliru atau dimanfaatkan oleh lingkungan terdekat. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk membangun kemampuan dalam literasi keuangan tidak hanya meliputi aspek perhitungan, namun sejumlah aspek-aspek lain termasuk mengenali kondisi psikologis dalam diri manusia saat mengambil keputusan keuangan.

ELEMEN PENTING DALAM MEMBANGUN LITERASI KEUANGAN

Sehubungan dengan makna dari literasi keuangan yaitu kemampuan mengelola uang dengan baik, maka tidak dipungkiri bahwa kemampuan berhitung (numerikal), pemahaman terhadap investasi, bunga, pinjam-meminjam, persiapan pensiun dan proteksi merupakan elemen utama dalam literasi keuangan (Baker et.al, 2014, Investor Behavior – The Psychology of Financial Planning and Investing). Beberapa kemampuan diperoleh dari pendidikan atau pelatihan, meskipun kesadaran untuk mengelola sumber daya juga merupakan suatu hal yang diwariskan (dan dicontohkan) dalam keluarga. Oleh karena itu, untuk mengasah kemampuan literasi tersebut, individu perlu mendapatkan nilai-nilai yang ditanamkan sejak dini dan diasah melalui pendidikan dan pelatihan yang memadai.

Pada sisi lain, Gustman et al. (2012, dalam Baker et.al, 2014) menemukan bahwa motivasi untuk belajar juga merupakan hal penting bagi seseorang untuk mengelola keuangannya dengan baik. Dalam praktek penulis, hal tersebut penting karena dalam mengelola keuangan, seseorang harus terbuka terhadap setiap perkembangan informasi, regulasi, metoda dan sistem yang berlaku. Termasuk diantaranya adalah selalu menelaah potensi set-back dari sebuah peluang investasi sehingga dapat menemukan langkah yang tepat untuk meminimalkan risiko yang dapat terjadi.

Hal lain adalah memperhatikan aspek psikologis yang mempengaruhi individu dalam mengambil keputusan keuangan. Setiap individu memiliki perbedaan dalam mengambil keputusan yang berisiko. Ada yang mencari kesempatan untuk mengambil keputusan yang berisiko (atau disebut sebagai high sensation seekers). Ada yang sangat berhati-hati sehingga membatasi opsi-opsi investasi yang ingin dilakukannya. Seseorang mengambil keputusan keuangan dengan cepat untuk hal-hal yang berkaitan dengan kesenangan (pleasure) seperti rekreasi, pembelian barang mewah dan ada yang cenderung mengamankan ketersediaan kas. Dengan memahami kondisi psikologis kita, maka seseorang dapat mengambil keputusan dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang tidak hanya terbatas pada perhitungan di atas kertas saja, namun apakah ia mampu tidak menjalankan keputusan tersebut dan juga akibat (risiko) dari keputusan itu secara nyaman, tanpa menjadi cemas, putus asa atau percaya diri yang berlebihan (overconfidence).

UANG DAN KEBAHAGIAAN

Tidak dapat dipungkiri bahwa uang sebagai alat tukar yang penting bagi manusia dalam menjalankan kehidupannya. Semua menyadari bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan manusia seutuhnya. Namun bagaimana hal itu bila ditinjau dari aspek psikologis manusia? Secara psikologis, kebahagiaan individu (individual well being) merupakan sebuah konsep yang luas dengan beberapa penekanan pada suatu hal yang subyektif, perasaan positif dan tidak hanya terbatas pada satu konteks kehidupan saja.

Dalam hal keuangan, Kahneman dan Deaton (2010) melakukan penelitian untuk melihat kebahagiaan individu (individual subjective well being) dari aspek kemampuan individu membangun emosi positif saat menjalani kehidupan sehari-hari (daily happiness) dan pemikiran individu terhadap kelangsungan hidupnya (life evaluation), yang kedua-duanya dihubungkan dengan kondisi keuangan individu.  Dalam hal ini, ditemukan korelasi tinggi pada tingkat pendapatan dengan life evaluation. Semakin tinggi pendapatan (dan tingkat pendidikan) individu, maka semakin optimis/positif evaluasi terhadap kelangsungan hidup mendatang. Sedangkan dampak keuangan terhadap daily emotions ternyata tidak menunjukkan korelasi yang lebih kuat dibandingkan dengan daily emotions terhadap aspek lain seperti kesehatan, perhatian dan kesepian (loneliness).

Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa keuangan memiliki dampak terhadap rencana jangka panjang individu, meski dalam kehidupan sehari-hari individu dapat beradaptasi dengan situasi keuangan yang ada dengan menemukan aspek-aspek lain sebagai pengganti. Meskipun demikian hal ini juga dapat menjadi catatan bahwa individu perlu meningkatkan kemampuan dalam membangun perencanaan yang baik dalam hal jangka pendek, menengah dan panjang serta dihubungkan dengan seluruh sumber daya yang ia miliki. Hal yang juga menarik dari temuan penelitian kahneman tersebut bahwa rasa bahagia yang dimiliki dari pendapatan yang diperoleh seseorang, pada akhirnya membentuk kurva U terbalik sejalan dengan waktu. Artinya manusia pada awalnya akan selalu puas terhadap pendapatan yang ia terima, namun pada akhirnya ia akan mencari pendapatan yang lebih besar lagi.

Hal lain adalah kebahagiaan manusia yang diperoleh dari kemampuannya berbelanja barang-barang mewah ternyata tidak selalu sejalan dengan peningkatan rasa kebahagiaan yang ia miliki. Rasa bahagia justru lebih banyak dimunculkan saat individu dapat memberikan sebagian yang ia miliki kepada orang lain (Bauer et.al, 2012 dalam dalam Baker et.all, 2014). Guven (2009) menambahkan bahwa kebahagiaan yang ditimbulkan dari kemampuan manusia membelanjakan uangnya diperoleh bila ia bisa berbelanja, namun kemudian tetap bisa menabung, serta dalam berbelanja ia bisa mengendalikan pengeluarannya dengan baik (have a lower marginal propensity to consume).

Demikian uang sebagai alat tukar, tetap merupakan salah satu sumber kekuatan utama manusia dalam menjalani kehidupannya. Meskipun demikian, perlu dipahami bahwa kebahagiaan yang muncul dari uang yang dimiliki adalah bukan dari jumlah barang mewah yang bisa dibeli melainkan dari sejauh mana keterampilan seseorang mengelola sumber daya tersebut sehingga ia bisa tetap menutupi pengeluarannya dengan efektif, memiliki tabungan untuk persediaan serta mengoptimalkan kapasitas mentalnya dalam mengolah keuangannya menjadi hal yang berarti kepada lingkungan.

Sebagai penutup, penulis mengutip satu ungkapan yang disampaikan Harold Thurman Whitman sebagai berikut:

Don’t ask yourself what the world needs; ask yourself what makes you come alive. And then go and do that. Because what the world needs is people who have come alive.

Harold Thurman Whitman (dalam Charles Richard, PhD, 2012, The psychology of wealth – understand your relationship with money & achieve prosperity)

Makna dari ungkapan tersebut adalah kebahagiaan/kesejahteraan individu (individual wealth/well being) tidak ditentukan dari jumlah uang yang ia miliki, namun sejauh mana ia dapat mengoptimalkan seluruh kapasitas yang ia miliki (pengetahuan/keterampilan, nilai, jejaring, keuangan) untuk menemukan jalan yang bermakna bagi hidupnya dan orang lain. Mengelola keuangan tanpa mengetahui tujuan akhir mengapa kita harus melakukannya akan menggiring manusia dalam kesesatan-kesesatan berpikir  yang pada akhirnya tidak membawa manusia dalam situasi kebahagiaan yang sesungguhnya.

Sejumlah kapasitas pada diri yang perlu dibangun agar manusia dapat mengoptimalkan potensi keuangan yang ia miliki dalam mencapai cita-cita yang ia inginkan:

  1. Tentukan dan definisikan mimpi-mu (life goal & financial goal).
  2. Bangun rasa kebehargaan diri. Investasikan uang untuk pengembangan diri bukan untuk memecahkan persoalan diri. Money solve money problem not personal problem.
  3. Temukan nilai (values) dari jalan yang dipilih, bukan harga.
  4. Bangun rasa tanggung jawab dalam menempuh jalan yang diinginkan. Jangan mudah berhenti.
  5. Hidup dengan penuh kesadaran (Here & Now).
  6. Berikan kembali (sebagian) yang dimiliki.
  7. Belajar selalu untuk menjadi lebih baik (termasuk menelaah kembali mimpi yang dibangun). Termasuk dalam keterbukaan untuk belajar adalah bertanya pada yang ahli untuk memberikan masukan terhadap perencanaan keuangan yang dapat mendukung perencanaan hidup.

Bandung, 24 Oktober 2022

Aria Arayana Parasian Siregar, M.Psit., MMHRM, Psikolog
HR Consultant / Psychologist