Menuju Dunia Baru yang Belum Kita Kenali (Journey to the New Unknown World) adalah sebuah tulisan singkat yang berisi rangkaian pemikiran mengenai kehidupan 5.0 yang mungkin sebentar lagi akan dialami oleh generasi Z dan selanjutnya. Dunia yang pada satu sisi merupakan dunia impian sebagaimana kisah-kisah futuristik pada abad 21, namun bisa jadi memberikan banyak masalah bagi mereka-mereka yang tidak mempersiapkan dirinya.

Human 2.0 berkembang menunjukkan kemungkinan manusia akan juga mengalami perubahan sejalan dengan meningkatnya tuntutan teknologi dan lingkungan. Akankah manusia tetap berperan aktif dalam mengendalikan kehidupannya? Kreativitas, Spirit dan Solidaritas Manusia akan ditantang dengan kemajuan Society of 5.0 yang pada satu sisi akan meminimalkan peran manusia.

Psikologi, sebagai ilmu yang erat kaitannya dengan perkembangan kehidupan manusia, tidak bisa tidak peduli terhadap kemungkinan perubahan yang terjadi. Bukan tidak mungkin, Dunia Baru dan tuntutannya terhadap eksistensi Manusia, akan menjadikan Psikologi memperluas Batasan-batasan standar manusia yang selama ini dipahami dan dipraktekkan. Hal ini mengharuskan ilmu Psikologi menajamkan Visinya, Kepercayaan dan lebih jauh Kolaborasinya untuk bersama-sama berjalan menuju Dunia Baru yang Belum Kita Kenali.

Menuju Dunia 5.0

Selama 271 tahun, manusia telah mengalami 4 tahap revolusi. Dimulai dengan Revolusi Industri 1.0 pada tahun 1750 yang ditandai dengan berkembangnya teknologi mesin uap. Sejak saat itu kehidupan manusia pun berubah. Manusia tidak lagi menjalani kehidupan yang mengikuti siklus alam tapi mulai memiliki kendali terhadap apa yang ingin dilakukan dan kapan melakukannya. Setelah mesin uap kemudian muncul tenaga listrik. Berkembang pabrik dengan sistem roda berjalan serta mulai dikenalinya tenaga kerja terampil. Prinsip-prinsip pengelolaan SDM pun mulai berkembang pada era ini. Tidak berhenti sampai disitu, muncul Industri 3.0 dengan berkembangnya komputerisasi sebagai bagian proses kerja yang menjadikan manusia berpikir untuk selalu mencari perbaikan dan inovasi dengan menggunakan data-data digital.

Era komputerisasi mencapai puncaknya pada revolusi 4.0 yang sejatinya dimulai tahun 1980-an, namun dampaknya baru terasa kuat pada abad 21 ini. Dalam era 4.0, manusia tidak lagi menjadikan teknologi komputer sebagai bagian penyelesaian pekerjaan, namun sudah menjadi bagian dari aspek kehidupan manusia. Cyber Physical System atau dikenal sebagai Sistem Dunia Siber yang Terintegrasi menjadi sebuah dunia baru dimana seluruh kebutuhan manusia dapat diakses, dipenuhi dan diprediksi melalui transfer data yang tiada henti. Makan, minum, mencari rumah, hiburan, bahkan bekerja tidak lagi mengharuskan manusia melakukan banyak aktivitas fisik. Pada puncaknya, era 4.0 akan memasuki masa dimana peran fisik manusia menjadi semakin minim, namun sebaliknya mesin dan pengetahuan (manusia) menjadi besar. Dalam dunia tersebut, teknologi cyber dapat melakukan modifikasi tersendiri terhadap proses yang sudah ada, tanpa melibatkan manusia (Elena G.PopKova et.all; 2019; Industry 4.0: Industrial Revolution of the 21st Century).

Kemudian, apakah pergerakan Revolusi Industri berhenti sampai pada Revolusi 4.0? Apakah akhir dari perkembangan manusia dan teknologi mencapai puncaknya pada dunia Cyber Physical System? Pada saat ini, mungkin sebagian ada yang berkata ya. Namun saya yakin, sudah ada sebagian lagi yang sedang mempersiapkan tahap selanjutnya, yaitu Revolusi 5.0.

Saat membayangkan Revolusi 5.0, terbayang kisah-kisah yang disampaikan orang tua saya kepada saya ketika mereka bercerita film masa depan dimana tokohnya bisa mendarat di Bulan dan Mars. Pada saat itu, kisah tersebut hanyalah dianggap sebagai fiksi semata. Dalam perkembangannya kemudian, kita menyaksikan sejarah keberangkatan manusia ke Bulan, pengiriman robot ke Mars, dan bukan tidak mungkin lagi, dalam waktu-waktu mendatang akan ada pengiriman masyarakat sipil ke antariksa sebagaimana proyek-proyek yang tengah dikerjakan oleh para pionir 5.0 saat ini.

Demikian dalam dunia 5.0, saat ini yang terlintas di benak adalah sebagaimana film-film futuristik yang muncul di abad 20 dimana peradaban manusia sudah menjadi sangat terstruktur. Kesejahteraan dan kesehatan manusia bahkan alam, dikendalikan sepenuhnya oleh sistem. Bayangan yang sangat indah meski hati berkata, “Apakah akan terjadi? … dan Apakah saya masih hidup untuk menyaksikannya?”

Bruno (2019, dalam Society 5.0: Industry of the Future, Technologies, Methods), menamakan dunia 5.0 sebagai “society of intelligence”, dimana ruang fisik dan cyber telah berintegrasi dengan kuat, dan inovasi dalam ilmu serta teknologi mendominasi untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial dan ekonomi manusia. Emmanuel Macron (sekarang Presiden Prancis), menyampaikan konsep Usine de Future (Factory of the Future) (2019, Society 5.0: Industry of the Future, Technologies, Methods) yang meliputi: New Resources, Sustainable City, Ecological Mobility, Transport of Future, Medicine of the Future, Data Economy, Intelligent Objects, Digital Trust Intelligent Food. Konsep ini dirancang sejak tahun 2017 serta diharapkan mulai ada penerapannya pada tahun 2020 dan mendatang.

Mencermati skema tersebut, saya membayangkan peradaban baru dimana kehidupan modern tidak hanya ditandai dengan teknologi mutakhir semata, akan tetapi pola kehidupan yang akan semakin terintegrasi. Dinamika kehidupan manusia bisa jadi bergeser dari kita berlari dan berkompetisi untuk menjadi yang terbaik, menjadi kita berlari agar menjadi bagian dari satu sistem yang besar.

Dan perjalanan menuju Dunia Baru yang Kita belum Kenal pun dimulai…..

Sudahkah kita mempersiapkannya?

Aria ArayanaParasian Siregar, Psikolog, MPsit MMHRM
  Programme Director at Bina Potensia Indonesia
  Studied Human resource management at Griffith University
  Studied magister psikologi terapan at University of Indonesia
  Studied Sarjana Psikologi at Padjadjaran University