Strategic Planning is worthless unless there is first a strategic vision (John Naisbitt, Megatrend )

John Naisbitt (Megatrends 2000: Ten New Directions for the 1990, 1990) telah jauh-jauh hari menyampaikan bahwa sejumlah tantangan global yang akan dihadapi manusia di masa mendatang antara lain derasnya teknologi, konflik antar negara dan peperangan, bencana alam serta penyakit.  Sejumlah diantaranya telah menjadi kenyataan yang telah dan tengah dihadapi manusia saat ini. Pandemi Covid-19 yang telah berjalan kurang lebih dua tahun semakin menyadarkan betapa dekatnya kehidupan manusia satu dengan yang lain. Hampir bersamaan manusia di seluruh dunia merasa cemas, khawatir, takut dan frustasi dalam menghadapi Covid-19 yang menghantam hampir semua aspek kehidupan manusia. Meskipun demikian, disaat yang sama, seluruh manusia juga saling menyemangati dan membantu untuk bisa selamat dan keluar bersama-sama dari situasi krisis ini. 

Perkembangan teknologi, sosial media dan kehidupan global menjadikan manusia semakin peduli satu dengan yang lain. Kesempatan terbuka bagi setiap individu untuk berkontribusi dalam lingkaran yang lebih besar. Manusia saat ini berjuang untuk memiliki tempat dalam ekosistem global yang terintegrasi (Bruno, 2019, Society 5.0: Industry of the Future, Technologies, Methods). 

Dalam membangun dan mempersiapkan diri menuju fase tersebut, pola berpikir dan bertindak yang menekankan pada keunggulan diri pribadi (egosystemharus diganti dengan pola berpikir yang kebersamaan dan kesisteman (ecosystem). Dan satu elemen penting yang harus dijaga dalam membangun pola pikir tersebut adalah memiliki altruisme (altruism). 

Altruisme atau Altruism dimaknakan sebagai sebuah prinsip yang meletakkan kebahagiaan orang lain atau bersama diatas kebahagiaan pribadi. Individu yang memiliki rasa altruisme tinggi akan selalu peduli terhadap keberadaan orang lain, ia ingin memberikan yang terbaik bagi sesama tanpa disertai dengan sebuah niat imbal jasa (pamrih).  International Encyclopedia of Social Sciences mendefinisikan altruism sebagai a motivational state with the goal of increasing another's welfare.  

Dalam konteks pembentukan manusia menuju era 5.0, memiliki kepedulian terhadap sesama dan mengurangi rasa ke-aku-an, menjadi semakin penting karena era 5.0 adalah era yang ditandai dengan kolaborasi. Dalam berkolaborasi, manusia harus bisa mengarahkan kontribusinya untuk kebaikan bersama, sekaligus harus bisa membaca niat baik rekan yang lain dan memberikan kesempatan untuk bersama-sama menyumbangkan kebaikan tersebut kepada lingkungan.  Individu yang memiliki niat baik atau cita-cita yang tinggi namun tidak memberikan tempat pada orang lain untuk berjalan bersama, akan kehilangan kesempatan berkolaborasi dan bahkan tempat di peradaban baru.  Karena pada kenyataan saat ini, tidak ada lagi suatu masalah yang hanya terjadi pada satu pribadi/kelompok atau negara saja; dan tidak ada solusi terhadap masalah yang hanya bersumber dari satu pribadi. Satu-satunya kesempatan manusia untuk bisa maju dan berkembang dalam era ini adalah dengan memiliki niat baik dalam berkolaborasi. 

Kolaborasi dalam satu hal memiliki arti yang sama dengan kerjasama yaitu melakukan upaya bersama untuk mencapai tujuan yang disepakati. Meskipun demikian, ada satu pembeda antara kolaborasi dengan kerjasama, yaitu kerjasama umumnya diletakkan ke dalam iklim yang harus dibangun sedangkan kolaborasi lebih menunjukkan upaya lintas fungsi atau bahkan organisasi/entitas. Dalam kerjasama umumnya ada pemimpin formal atau informal, sedangkan kolaborasi bisa terjadi diantara beberapa pihak yang sama kuat namun memiliki ketergantungan satu dengan yang lain baik dalam sumber daya atau teknologi.

Kolaborasi dalam dunia 5.0 berarti menyatukan setiap kemampuan-kemampuan dan potensi (termasuk teknologi) yang dimiliki setiap pihak untuk menciptakan kemajuan bagi kesejahteraan bersama  (Bruno, 2019, Society 5.0: Industry of the Future, Technologies, Methods). Kolaborasi tersebut berarti membaca dengan cepat kebutuhan masyarakat mendatang, menciptakan keterkaitan (konektivitas) antara sumber daya dan mendorongnya untuk bersinergi dalam menciptakan kemajuan yang dapat diaplikasikan baik dalam bentuk metoda maupun teknologi. Sehingga salah satu elemen penting untuk menciptakan kolaborasi yang bermakna adalah Kreativitas. 

Secara umum, kreativitas dapat didefinisikan sebagai proses mencipta yang bisa dituangkan dalam bentuk ide, rasa sampai dengan karya (nyata). Kreativitas dalam dunia 5.0 diharapkan bisa mengarahkan proses kreasi manusia ke dalam karya-karya nyata yang bisa diterapkan dan lebih baik lagi bila bisa dikembangkan ke dalam teknologi aplikasi. 

Dalam membentuk pribadi yang diharapkan menuju dunia baru (5.0) bukanlah suatu hal yang mudah. DIsukai atau tidak disukai serta disadari atau tidak disadari, pola-pola kehidupan yang berjalan mengajarkan manusia untuk lebih memiliki dirinya (atau setidaknya keluarga terdekatnya), membangun batasan dan mengarahkan potensi kreatif pada hal-hal yang bersifat rutin  seperti bekerja atau belajar. Terbentuknya perilaku tersebut tidaklah keliru karena dalam beberapa hal terbukti efektif dalam menjalani kehidupan saat ini.  Oleh karena itu, yang diperlukan bukanlah merubah tetapi menyeimbangkan pola kehidupan manusia saat ini. 

Terlibat dalam komunitas dapat menjadi media penyeimbang dalam membangun pribadi yang lebih adaptif untuk masa mendatang.  Sebagai salah satu bentuk kelompok sosial, Komunitas memiliki keberartian yang berbeda dibanding organisasi. Apabila sebuah organisasi (profit / non-profit) dibentuk, maka pengembangan potensi individunya diarahkan untuk memajukan kepentingan organisasi. Sedangkan dalam komunitas, selain ikatan yang lebih informal, juga ditujukan untuk meningkatkan kemampuan dan eksistensi anggotanya melalui proses berbagi.  Komunitas juga dapat menjadi media alternatif bagi individu dalam mengembangkan minat dan potensi yang tidak terpenuhi dalam tempatnya bekerja atau belajar. 

Agar nilai keterikatan dalam komunitas menjadi signifikan dalam membentuk pribadi yang unggul di masa mendatang, terdapat sejumlah hal yang perlu diperhatikan: 

  1. Membangun rasa kebersamaan dan senasib sepenanggungan diantara para anggota.  Hal ini perlu dilakukan bukan untuk meningkatkan rasa keterikatan semata, akan tetapi untuk menggali sepenuhnya minat dari anggota yang bergabung; dan merupakan langkah pertama dalam membentuk rasa penerimaan diri dalam sebuah lingkungan.
  2. Mendorong kegiatan-kegiatan yang diangkat dari potensi para anggota. Dalam hal ini, program tidak diturunkan dari atas (top down), akan tetapi dikembangkan dengan melihat potensi anggota. Tugas komunitas menjadi penghubung (konektor) antara perkembangan diluar, hal yang bisa dilakukan dan potensi para anggotanya. Jadi dalam hal ini, bukan anggota bekerja bagi komunitas, akan tetapi komunitas memfasilitasi anggota  untuk maju. 
  3. Mendorong setiap kegiatan yang dijalankan, bisa dikembangkan ke dalam aktivitas lain. Dalam hal ini dibutuhkan kejelian dan keluasan kemitraan. Kembali pada prinsip, tidak ada solusi yang hanya bersumber pada satu individu saja. Serta akan lebih baik apabila setiap kegiatan yang dikembangkan, bisa dilanjutkan ke dalam bentuk digital baik dokumentasinya maupun aplikasi.  Lebih jauh lagi, komunitas membuka jalan bagi setiap karya yang dihasilkan anggotanya untuk bisa dimasukkan dalam ekosistem yang lebih besar. 
  4. Menciptakan sistem yang bisa mewujudkan ketiga aspek diatas. Sistem tersebut mulai dari: menggalang dan membaca minat anggota; memfasilitasi proses tukar ide, pengalaman dan aktivitas; mendokumentasikan dan meningkatkan skalabilitas hasil (output) komunitas; sampai dengan mengintegrasikan teknologi ke dalam output yang dihasilkan. 

Kepedulian, Kebersamaan dan Kreativitas adalah kunci penting dalam menjaga kelangsungan peradaban manusia dari waktu ke waktu. Perjalanan kehidupan semestinya mengajarkan manusia untuk menyeimbangkan rasa “Aku” dengan “Kami” yang kemudian ditunjukkannya dalam perkataan dan perbuatan serta karya di keseharian.  Membangun pribadi melalui komunitas merupakan media untuk menyeimbangkan pembentukan pribadi yang adaptif menuju era mendatang. 

Psikologi, sebagaimana ilmu sosial dan kemanusiaan lainnya, tidak bisa lepas dari tanggung jawab untuk berkontribusi dalam memajukan peradaban manusia. Ditambah dengan setiap janji dan sumpah yang diucapkan, seharusnya sikap tanpa pamrih, tidak egois, terbuka dan kreatif menjadi bagian dari pribadi para lulusan psikologi.  Merupakan kekeliruan besar apabila sebagai pribadi maupun ilmu, Psikologi lebih menekankan pada eksistensi pribadi dan kelompok diatas kesejahteraan bersama.  Psikologi dapat menjadi pionir untuk menunjukkan pola yang tepat dalam membangun kebersamaan, kepedulian, kolaborasi dan kreativitas dengan mengangkat potensi masyarakat dan bangsa.  Salah satu yang dapat dilakukan dengan segera adalah menyatukan setiap potensi talent psikologi dan meletakkannya dalam sebuah ekosistem yang mewadahi karya para talent serta peluang bersinergi dengan berbagai disiplin dan berbagai pihak. 

 

Aria ArayanaParasian Siregar, Psikolog, MPsit MMHRM
  Programme Director at Bina Potensia Indonesia
  Studied Human resource management at Griffith University
  Studied magister psikologi terapan at University of Indonesia
  Studied Sarjana Psikologi at Padjadjaran University